Bagaimana hubungan manusia dan alam? Terang dan gelap? Mimpi dan tidur? Cahaya dan bayangan? Rabindranath Tagore membuat rumusan-rumusan sederhana tapi dalam. Itulah hakikat aforisme.

Ketika lampu tak dinyalakan bukan berarti bayangan tak ada. Bayangkan dalam gelap itu kita ulurkan bayangan kita sendiri, keberadaan kita sendiri. Berikut ini kutipan lain dari penyair besar India itu.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

*

Tuhan malu ketika ada orang kaya membangga-banggakan diri bawha dia diistimewakan oleh-Nya.

*

Aku menjulurkan bayanganku sendiri di atas jalan setapakku, karena aku punya lampu yang belum dinyalakan.

*

Manusia memasuki kerumunan yang hingar-bingar untuk menenggelamkan gegar kesunyiannya sendiri.

*

Apa yang berakhir dalam kelelahan adalah kematian, tetapi akhir yang sempurna adalah apa yang tak ada akhirnya.

*

Matahari memiliki jubah cahaya yang sederhana. Awan dihiasi dengan keindahan.

*

Bukit-bukit itu seperti teriakan anak-anak yang membentangkan tangan, mencoba meraih bintang-bintang.

*

Jalan itu kesepian di tengah keramaiannya sendiri yang tidak dia cintai.

*

Kekuasan yang bangga dengan kejahatannya ditertawakan oleh daun kuning yang jatuh, dan awan yang berlalu.

*

Hari ini bumi bersenandung kepadaku dalam hangat matahari, seperti seorang perempuan pada pemintal benangnya, melagukan beberapa balada kuna pada lidah yang terlupakan.

*

Rumput jarum sama harganya dengan dunia raya tempat ia tumbuh.

*

Mimpi adalah seorang istri yang merasa harus bicara. Tidur adalah seorang suami yang diam-diam menahan derita.

*

Malam mencium hari yang melindap dan berbisik ke telinganya, “Aku adalah kematian, aku adalah ibumu. Aku akan memberimu kelahiran baru.”

Previous articlePolandia Puji Keberhasilan Indonesia Turunkan Kasus COVID-19
Next articleCegah Risiko Bayi Stunting, Bumil Jangan Lupa Pantau Kenaikan Berat Badan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here