Home Entertainment Balenciaga yang “Nyeleneh” Hidupkan Kembali “Haute Couture”

Balenciaga yang “Nyeleneh” Hidupkan Kembali “Haute Couture”

50
0
Kolase tangkapan layar Instagram memperlihatkan model memperagakan koleksi haute couture dari rumah mode Balenciaga di Paris, Prancis pada Rabu (7/7). (ANTARA/Instagram/@balenciaga)

BICARA.NEWS, Jakarta – Selama enam tahun bekerja untuk rumah mode Balenciaga, perancang busana Georgia Demna Gvasalia telah membuat sandal plastik rumahan seperti Crocs dan merchandise kampanye Bernie Sanders muncul di catwalk dalam Paris Fashion Week. Selain itu, di tangan Gvasalia, kini jendela-jendela butik di Avenue Montaigne telah membingkai tas belanja nilon biru khas Ikea dengan versi lebih mewah seharga Rp32 juta dan jaket hi-vis warna nilon kuning terang seharga Rp40 juta.

Namun langkah “nyeleneh” Gvasalia ini justru mampu menghidupkan kembali desain adibusana atau “haute couture” khas Balenciaga, yang sempat ditutup pada tahun 1968. Haute couture, di mana gaun pesta taffeta, sutera dan organza dibuat agar sesuai dengan selera dan ukuran kaum elite, tampaknya masih harus disesuaikan dengan selera unik Gvasalia. Di tangan Gvasalia, jaket puffer yang identik dengan gaya unik Balenciaga bisa menjadi salah satu item adibusana nan mewah dan tentu saja super mahal.

Gvasalia jelas membuat kebangkitan haute couture untuk rumah mode Balenciaga menjadi pertunjukkan adibusana yang berbeda dari koleksi adibusana pada umumnya.

Kanye West yang hadir turut menonton pertunjukkan adibusana itu, duduk di barisan depan mengenakan balaclava. Sebuah penampilan tidak biasa untuk menonton pertunjukkan haute couture.

Pertunjukan dibuka dengan serangkaian setelan celana panjang, ada yang dipakai oleh laki-laki, ada pula yang dipakai oleh perempuan. Gaun rompi yang tipis dan tidak terstruktur ditampilkan serupa dengan ballgown. Ada juga dressing gown bernuansa pastel yang lembut yang dipakai sebagai mantel. Gaya berbusana yang tidak biasa ini dengan

Gvasalia dalam rancangannya seolah-olah ingin menunjukkan bahwa gaya berbusana saat pandemi ini juga bisa mewah namun tetap mengedepankan rasa nyaman dan aman. Ada kacamata hitam bergaya goggle yang berukuran besar dan buram yang kini tampak normal dikenakan dan selaras dengan tampilan sebagian besar penonton yang hadir mengenakan aneka model masker yang menutupi wajah sebagai pelindung dari virus.

Namun kejutan terbesar adalah lokasi tempat pertunjukan adibusana ini berlangsung. Gvasalia menggunakan sebuah apartemen yang rupanya adalah apartemen milik Cristóbal Balenciaga, sang pendiri rumah mode tersebut. Dulu, apartemen di pinggir kota Paris itu kerap kali digunakan untuk pertunjukan fesyen, namun dalam beberapa tahun terakhir digunakan kembali sebagai gudang penyimpanan koleksi pakaian.

Gvasalia kemudian mengembalikan keanggunan dari apartemen tersebut selayaknya seperti apartemen mewah terdahulu pada tahun 1960-an, lengkap dengan karpet borjuis pucat dan tirai lembut di jendela.

Pagelaran busana yang digelar pada Rabu (07/7) itu ditayangkan melalui tayangan streaming akun media sosial Instagram Balenciaga. Namun pagelaran itu sendiri juga dihadiri oleh sejumlah tamu yang duduk di kursi berwarna emas dengan jarak antara kursi satu dengan lainnya.

Koleksi adibusana

Gvasalia menampilkan koleksi seperti jaket denim dengan siluet tradisional Balenciaga, kerahnya digulung dan ditarik terbuka di bagian belakang untuk memperlihatkan tengkuk, dipadu dengan celana jeans dengan lima saku yang serasi dengan aksentuasi kancing berwarna perak yang solid.

Ella Emhoff, putri tiri dari wakil presiden AS, Kamala Harris, adalah salah satu model dalam pertunjukan adibusana Balenciaga. Dia tampil dengan mengenakan jaket opera sutra puffy sebagai luaran untuk oversized tuksedo. Aneh, namun tampak mahal selayaknya tampilan adibusana.

Aneka puff jaket yang menggembung sangat besar juga ditampilkan oleh Gvasalia dengan lebih mewah. Sehingga nuansa adibusana masih menyisakan aura “nyeleneh” Balenciaga seperti biasanya, namun tampak mahal. Gvasalia menggunakan warna-warni neon pada jaket puff yang menutupi bahu hingga ke mata kaki.

Pilihan ovesized coat dan jaket juga masih digunakan oleh Gvasalia, dengan dominasi warna hitam. Ada juga parka dan trenchcoat dari bahan kulit yang masih menggunakan warna hitam. Aneka jaket yang “kebesaran” itu dipadu dengan celana pantalon besar dengan warna senada.

Beberapa model mengenakan sackdress dari bahan sutera serta tweed yang dirancang menyerupai gaya berbusana kalangan elit di tahun 1960’an. Dengan topi hitam besar yang menutupi separuh wajah, serta sarung tangan dan menjinjing clutchbag berbentuk kotak hitam.  

Ada juga ballgown sutra bersulam bunga yang dikenakan dengan sarung tangan opera. Gaun ini dirancang berdasarkan pada pada karya yang dibuat untuk Jackie Kennedy di tahun 1960-an. Gvasalia tampaknya juga mendapatkan inspirasi dari cara berpakaian “madame” di tahun 1960-an, yang identik dengan mantel bulu yang tampak besar, dipadu dengan topi, sarung tangan, clutchbag dan sepatu pump hitam.

Pagelaran koleksi adibusana ini ditutup dengan hadirnya model yang mengenakan pakaian pengantin wanita tradisional dalam jagat haute couture namun tetap ada sentuhan “nyeleneh” ala Balenciaga yang sempat menghebohkan jagat fesyen pada lima puluh tahun yang lalu. Pengantin itu hadir dengan tudung atau veil yang menutupi kepala hingga batas pinggang. Namun alih-alih tampak menawan, si pengantin ini malah tampak sangat misterius karena Gvasalia memilih kain yang lebih tebal dari pilihan bahan untuk tudung pada umumnya.

Selain itu, Gvasalia menempatkan fesyen sebagai ranah yang terbuka dan tidak terbatas untuk usia muda dengan bentuk tubuh kurus tinggi seperti rumah mode pada umumnya. Balenciaga melalui Gvasalia menggunakan model dari usia muda hingga lansia, aneka warna kulit dan bentuk tubuh. Membuktikan bahwa high-fashion juga bisa untuk semua kalangan dan bentuk tubuh.

Netflix dan video game sempat mengambil alih pagelaran fesyen dalam pekan mode, dan kembalinya Balenciaga dari rumah mode “nyeleneh” ke jagat adibusana seperti menandai kembalinya agenda fesyen yang sempat memudar akibat pandemi. (Ant/Fit)