Home Opini Kisah Sufi: Di Mana Batas Antara Cerdik dan Licik?

Kisah Sufi: Di Mana Batas Antara Cerdik dan Licik?

257
0
Pixabay.

Kolom Oleh Hasan Aspahani

Orang yang cerdik adalah mereka yang mampu dengan lekas memahami persoalan atau situasi sulit yang dihadapi dan menentukan tindakan apa yang harus diambil sebagai solusinya.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

Orang yang licik adalah orang yang cerdik itu tadi dan dia memanfaatkan kecerdikannya untuk keuntungan dirinya sendiri.

Cerita sufi tentang tiga orang musafir ini bisa jadi contoh. Dikisahkan oleh Idris Shah dalam buku “Kisah-Kisah Sufi” (Pustaka Firdaus, 1989) tiga orang musafir yang telah menempuh perjalanan jauh, dalam susah senang bersama.

Suatu hari mereka sampai di satu tempat yang tak berpenduduk, jauh dari perkampungan dan mereka menyadari bekal yang tersisa hanya seteguk air dan sepotong roti untuk satu orang.

Mereka berembuk untuk memutuskan siapa yang paling berhak atas sisa bekal itu.

Hingga malam mereka tak mencapai kesepakatan, maka diputuskan untuk menunda perundingan, dan mereka lalu sepakat untuk tidur.

Disepakati siapa yang malam itu bermimpi paling menakjubkan dialah yang berhak atas sisa bekal. Pagi-pagi mereka sama-sama terbangun.

“Aku bermimpi berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, sangat indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijak yang berkata, ‘kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga,” kata musafir pertama.

“Aneh sekali,” kata musafir kedua, “dalam mimpiku aku melihat masa depan dan masa lampauku.

Di masa depanku aku melihat seorang lelaki berkata, ‘kau berhak atas makanan itu lebih dari kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia.”

Musafir ketiga berkata, “dalam mimpiku aku tak melihat apapun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu lalu memakannya. Nah, itulah yang kukerjakan semalam.”

Kita bisa menjadikan kisah ini sebagai bahan renungan. Apakah si musafir ketiga itu licik? Atau cerdik? Yang pasti, kadang tindakan nyata lebih baik daripada menunggu keputusan dan menyandarkan keputusan pada mimpi belaka. (Hah)

Previous articleGarin Nugroho: FFI Upaya Bangun Ekosistem Perfilman
Next articleArgentina Bungkam Uruguay 3-0 di Kualifikasi Piala Dunia