Home Daerah Diskusi Bulanan Budaya Kopi Tubruk di Samarinda Menggeliat Lagi

Diskusi Bulanan Budaya Kopi Tubruk di Samarinda Menggeliat Lagi

84
0
Ali Sadli Salim (berdiri), Amien Wangsitalaja (tengah), dan Khalish Abniswarin (kanan), dalam diskusi budaya bulanan Kopi Tubruk, di kafe Pucuk Daun, Samarinda, Jumat. (Foto: Ist).

BICARA.NEWS, Samarinda – Diskusi bulanan Kopi Tubruk 4/4 hadir lagi. Setelah terhenti karena pandemi, pertemuan bulanan yang digagas sebagai wadah diskusi dengan beragam topik, Jumat malam, kembali digelar.

Tema diskusi malam itu disesuaikan dengan kehadiran dua narasumber tamu Khalish Abniswarin dan Ali Sadli Salim dari Kecamatan Samboja.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

Dua penyair itu mengetengahkan topik terkait sastra, sejarah pesisir dan kearifan lokalnya. Acara juga diselingi baca puisi dan musik akustik dari anggota DPRD Provinsi Kaltim.

Khalish membawa pembicaraan dari buku puisinya yang pertama”Sujud Sebelas Bintang” yang tahun ini dicetak ulang bersama buku keduanya “Batumbang Apam” (Circa, Yogyakarta). Ali membaca puisi dari buku pertamanya “Tukang Kebun Kata”.

Amien Wangsitalaja sebagaimana biasa memimpin majelis diskusi yang digerakkan oleh Jaringan Penulis Kaltim, sebagai penggagas awal hajatan bulanan tersebut.

Diskusi bulanan itu selalu mengusung tema filsafat, lingkungan, tasawuf, bedah buku, juga sastra.

Husein Labib, pemilik Pucuk Daun menyampaikan bahwa kegiatan ini sudah berjalan cukup lama dan sempat terhenti di masa pandemi.

Kafe di jalan Harun Nafsi Samarinda malam itu dihadiri tak kurang dari 30-an orang, para pemerhati seni, budaya dan sastra dari berbagai latar belakang.

Mereka datang dari kalangan birokrat, politisi dan anggota legislatif, komisioner KPU, seniman, aktivis lingkungan dan mahasiswa dan tokoh muda.(hah)

Previous articlePersita vs Persiraja Berakhir Imbang 1-1
Next articleAtlet Perempuan Dominasi Perolehan Medali untuk NTB di PON