Home Daerah Harimau Sumatra Dilaporkan Kembali Masuk Perkebunan Warga di Aceh

Harimau Sumatra Dilaporkan Kembali Masuk Perkebunan Warga di Aceh

29
0
Dokumentasi - Pawang Syarwani (70) membantu mengevakuasi harimau sumatra (panthera tigris sumatrae) di Kantor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. ANTARA/Irwansyah Putra

Banda Aceh, 21/10 (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyatakan seekor harimau sumatra (panthera tigris sumatrae) dilaporkan kembali masuk ke perkebunan warga di kawasan Bakongan Timur, Kabupaten Aceh Selatan.

“Ada seekor harimau dilaporkan masuk perkebunan warga di Kecamatan Bakongan Timur yang jaraknya beberapa kilometer permukiman penduduk setempat,” kata Kepala Seksi Wilayah II Subulussalam BKSDA Aceh Hadi Sofyan di Aceh Selatan, Kamis.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

Hadi mengatakan masyarakat melaporkan harimau tersebut masuk perkebunan Rabu (20/10) malam. Berdasarkan laporan tersebut, tim BKSDA langsung ke lokasi.

“Tim BKSDA bersama tim Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL dan mitra sudah ke lokasi, memasang kamera, serta patroli dan pengusiran harimau agar keluar dari perkebunan warga,” kata Hadi Sofyan.

Hadi mengingatkan masyarakat agar jangan mendekat ke areal perkebunan yang dilaporkan ada harimaunya tersebut. Sebab, belum diketahui bagaimana kondisi harimau tersebut.

“Tim BKSDA Aceh masih berada di tempat lokasi, berupaya melakukan penggiringan agar harimau kembali masuk hutan. Mudah-mudahan harimau tersebut menjauh dari perkebunan, sehingga warga dapat beraktivitas seperti biasa di kebun mereka,” kata Hadi Sofyan.

Sebelumnya, seekor harimau juga masuk perkebunan warga di Kecamatan Bakongan Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Sabtu (9/10). Saat itu, tim BKSDA mengusir satwa dilindungi tersebut menggunakan mercon serta mendatangkan pawang harimau.

Harimau sumatra merupakan satwa liar dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Berdasarkan daftar kelangkaan satwa dikeluarkan lembaga konservasi dunia International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus spesies terancam kritis, berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

BKSDA Aceh mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian khususnya harimau sumatra dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa.

Serta tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati.

Kemudian, tidak memasang jerat, racun, pagar listrik tegangan tinggi yang dapat menyebabkan kematian satwa liar dilindungi. Semua perbuatan ilegal tersebut dikenakan sanksi pidana sesuai peraturan perundang-undangan.

Di samping itu, aktivitas ilegal lainnya juga dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya harimau sumatra dengan manusia. Konflik ini berakibat kerugian secara ekonomi hingga korban jiwa, baik manusia maupun keberlangsungan hidup satwa liar tersebut.(Ant/Hah)

Previous articleMerdi Sihombing Gandeng Komunitas Perempuan Pamerkan Koleksi Terbaru
Next articleEkosistem Gojek Diperkirakan Berkontribusi Rp249 Triliun