Home Narasi Hawa Panas Surabaya, Pidato Mayjen Sungkono, Seruan Merdeka atau Mati

Hawa Panas Surabaya, Pidato Mayjen Sungkono, Seruan Merdeka atau Mati

42
0
Mayjen Sungkono (kanan).

Oleh Agus Hidayat (www.biografia.id)

November 1945. Hawa Kota Surabaya yang panas kian membara oleh percikan-percikan yang sudah disulut sejak Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu akibat bom atom di Nagasaki dan Hirosima.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

Letupan pertamanya terjadi pada malam hari tanggal 18 September 1945 di Hotel Yamato (Hotel Oranye) yang dipicu pengibaran bendera Belanda oleh sekelompok orang dibawah pimpinan W.V.Ch.Ploegman.

Keesokan harinya, para pemuda yang melihat bendera Belanda berkibar tersulut emosinya. Mereka menilai Belanda tidak menghormati kemerdekaan Indonesia yang baru saja diproklamasikan, serta berniat berkuasa lagi di Indonesia dengan mengibarkan merah putih biru.

Perundingan segera dilakukan. Para pemuda menuntut penurunan bendera Belanda yang tentu saja ditolak kubu Belanda. Deadlock dalam perundingan berbuntut Ploegman mengeluarkan dan meletuskan pistolnya, diikuti perkelahian yang membuat Ploegman tewas di tempat.

Dalam kekalutan, sekelompok pemuda memanjat tiang, menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya dan mengibarkan bendera merah putih.

Insiden Hotel Yamato diikuti perang dalam kota kecil-kecilan antara kelompok-kelompok pejuang dengan tentara Belanda. Hingga tanggal 25 Oktober 1945, tentara Inggris/Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) mendarat di Surabaya.

Kedatangan mereka merupakan keputusan Blok Sekutu yang memberi mandat untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Kedatangan pasukan Sekutu ini diam-diam membawa misi terselubung untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda.

Indikasi ini terlihat dari kehadiran pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang membonceng kedatangan tentara Sekutu, kemudian memicu gejolak dan memunculkan gerakan perlawanan, termasuk di Surabaya.

Pada tanggal 27 Oktober 1945, berkecamuk pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris. Bermula dari serangan-serangan kecil yang berkobar menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa. Sesuatu yang memaksa Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi lewat gencatan senjata.

Genjatan senjata diteken pada 29 Oktober 1945, pertempuran mulai mereda. Kendati demikian, di Kota Surabaya bentrokan-bentrokan bersenjata antara Sekutu dengan para pejuang tetap terjadi. Puncaknya ketika Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby tewas tertembak pada 30 Oktober 1945.

Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok pejuang di sekitar Jembatan Merah. Kesalahpahaman akibat kurangnya informasi tentang gencatan senjata, menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Mallaby.

Kematian Mallaby menyebabkan Inggris murka. Pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum kepada Indonesia untuk bertekuk lutut dan menyerahkan persenjataan kepada tentara AFNEI dan administrasi NICA. Tanggal 10 November 1945 pukul 06.00 pagi ditetapkan senagai tenggat penyerahan senjata tersebut.

Ultimatum yang disebarkan melalui pamflet udara membuat rakyat Surabaya kian marah. Situasi sangat panas. Hampir seluruh sudut kota disesaki para pemuda dan kelompok bersenjata yang menolak ultimatum Sekutu.

(Selengkapnya baca: www.biografia.id)

Previous articleOJK Cabut Izin Usaha Perusahaan Pembiayaan PT OVO Finance Indonesia
Next articleAnak-anak Pulau Kampung Yoboi – Puisi Dayu Rifanto