Home Health Inggris Serukan Tindakan Atasi Bias Rasial dalam Perangkat Medis

Inggris Serukan Tindakan Atasi Bias Rasial dalam Perangkat Medis

28
0
Ilustrasi - Alat Medis Tabung oksigen portabel individu untuk menempatkan gas untuk pasien dengan gangguan pernapasan. ANTARA/Shuterstock/pri. (Shutterstock)

BICARA.NEWS, London – Inggris pada Minggu menyerukan tindakan internasional untuk mengatasi masalah perangkat medis seperti oksimeter yang bekerja lebih baik pada orang-orang dengan kulit lebih terang.

Inggris mengatakan perbedaan efektivitas perangkat itu mungkin merenggut nyawa pasien etnis minoritas selama pandemi COVID-19.

Menteri Kesehatan Sajid Javid mengatakan dia telah menugaskan peninjauan masalah setelah mengetahui bahwa oksimeter, yang mengukur kadar oksigen darah dan merupakan kunci untuk menilai pasien COVID, memberikan pembacaan yang kurang akurat untuk pasien dengan kulit lebih gelap.

“Ini persoalan sistemik di seluruh dunia. Ini menyangkut bias rasial di beberapa instrumen medis. Ini tidak disengaja tetapi ada dan oksimeter adalah contoh yang sangat bagus untuk itu,” kata Javid selama wawancara dengan BBC.

Ditanya apakah orang mungkin meninggal karena COVID-19 sebagai akibat dari cacat alat tersebut, Javid berkata: “Saya pikir mungkin ya. Saya tidak memiliki fakta lengkapnya.” Dia mengatakan alasan perbedaan itu adalah karena banyak perangkat medis, obat-obatan, prosedur, dan buku pelajaran disatukan di negara-negara mayoritas kulit putih.

“Saya ingin memastikan bahwa kami melakukan sesuatu tentang hal itu tetapi tidak hanya di Inggris. Ini adalah masalah internasional jadi saya akan bekerja dengan rekan-rekan saya di seluruh dunia untuk mengubah ini,” kata Javid.

Dia mengatakan sudah membicarakan masalah ini dengan menteri kesehatan dari AS, yang sama tertariknya dengan dia.

Javid mengatakan dia menyadari masalah ini setelah melihat mengapa, di Inggris, orang-orang dari latar belakang etnis kulit hitam dan minoritas lainnya secara tidak proporsional terpengaruh oleh COVID-19.

Dia mengatakan bahwa pada puncak tahap awal pandemi, sepertiga dari pasien COVID yang masuk ke unit perawatan intensif adalah etnis minoritas, yang dua kali lipat proporsi mereka dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. (Reu/Ant/Fit)

Travel Haji dan Umroh sejak 1995
Previous articleRumah Indonesia Paris Kenalkan Terasi dan Sagu di Prancis
Next article“Death Knot” Ramaikan Jakarta Film Week