Home News Italia Perluas Penggunaan “Green Pass” untuk Tahan Lonjakan COVID-19

Italia Perluas Penggunaan “Green Pass” untuk Tahan Lonjakan COVID-19

44
0
Green Pass digital dengan kode QR sebagai syarat melakukan perjalanan di negara-negara Uni Eropa. (ANTARA/Shutterstock)

BICARA.NEWS, Roma – Demi menahan lonjakan baru kasus virus corona, mulai bulan depan masyarakat Italia harus menunjukkan Green Pass  agar bisa mengakses berbagai layanan dan kegiatan rekreasi, demikian pemerintah setempat mengumumkan, Kamis (22/7).

Green Pass adalah sertifikat digital atau kertas yang menunjukkan seseorang telah menerima setidaknya satu suntikan COVID-19, telah dites negatif, atau baru saja pulih dari COVID-19.

Mulai 6 Agustus, Green Pass akan diperlukan untuk masuk pusat kebugaran, kolam renang, stadion olahraga, museum, spa, kasino, dan bioskop. Makan di restoran dalam ruangan juga membutuhkan izin.

Green Pass sangat penting jika kita ingin kegiatan bisnis tetap dibuka,” kata Perdana Menteri Mario Draghi kepada wartawan.

Namun, usulan untuk memasukkan kereta api, transportasi umum, dan penerbangan domestik dalam sistem perizinan harus ditunda untuk saat ini. Partai Liga sayap kanan memperingatkan penundaan itu akan mematikan pariwisata.

Sebaliknya, kabinet setuju bahwa diskotik harus tetap ditutup, bahkan bagi mereka yang memiliki Green Pass.

Green Pass diperkenalkan di Italia bulan lalu, tetapi sampai sekarang hanya diperlukan untuk perjalanan di Uni Eropa dan untuk mendapatkan akses ke panti jompo atau resepsi pernikahan besar di Italia.

Keputusan pemerintah untuk memperluas cakupannya mengikuti langkah serupa oleh Prancis bulan ini dan menggarisbawahi kekhawatiran yang meningkat terhadap varian Delta yang lebih menular.

Jumlah infeksi COVID-19 yang tercatat di Italia telah berlipat ganda selama seminggu terakhir, mencapai 5.057 pada Kamis.

Ada kekhawatiran kampanye vaksinasi melambat, dengan masih banyaknya orang berusia di bawah 50-an yang belum menerima suntikan vaksin.

Sekitar 48,2 persen orang Italia sudah menerima vaksin secara penuh, sementara 14,1 persen lainnya sedang menunggu suntikan kedua, menurut data terbaru.

Studi menunjukkan bahwa vaksinasi ganda menawarkan perlindungan yang kuat dari varian Delta, sementara dosis awal hanya memberikan perlindungan terbatas.

Beberapa politisi kanan, termasuk anggota parlemen dalam koalisi PM Mario Draghi, telah menolak untuk mendukung program vaksinasi dan mendesak orang-orang di bawah 40 tahun untuk tidak disuntik. Draghi mengecam komentar semacam itu.

“Seruan agar orang tidak divaksinasi adalah seruan agar orang mati. Jika tidak divaksinasi, Anda sakit, Anda mati atau Anda membiarkan orang lain mati,” kata Draghi. (Reu/Ant/Fit)

Travel Haji dan Umroh sejak 1995
Previous articlePentingnya Deteksi Sejak Dini Penyakit Jantung Bawaan
Next articlePeringatan Hari Anak Nasional, 1.020 Anak Terima Remisi