Home News Jakarta dan Kembalinya Kegentingan COVID-19

Jakarta dan Kembalinya Kegentingan COVID-19

36
0
Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) berjalan meninggalkan ruangan usai menjalani isolasi di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Pademangan, Jakarta, Selasa (15/6/2021). Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi, membenarkan adanya 145 kasus variant of concern (VOC) yang diyakini menular lebih cepat hingga memperberat gejala COVID-19 saat ini menyebar di 12 provinsi. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/nz (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

BICARA.NEWS, Jakarta – Seiring tingginya kasus aktif COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperpanjang kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro hingga 28 Juni 2021.

Seperti telah diprediksi berbagai pihak sebelumnya, kasus infeksi virus corona bakal melonjak beberapa pekan usai Lebaran. Pemicunya bukan pada Lebarannya, tetapi aktivitas warga dengan libur-liburnya.

Walaupun tradisi mudik dan balik dilarang dengan sanksi putar balik serta penyekatan, nyatanya tak menyurutkan sebagian warga untuk tetap melakukannya.

Sekitar tujuh persen dari jumlah penduduk atau 18 juta warga menyiasati dengan mudik sebelum tenggat pelarangan dan balik setelah pelarangan berakhir.

Kini yang terjadi setelah arus mudik dan arus balik adalah kembali naiknya jumlah kasus harian virus corona (COVID-19).

Meski ada kewajiban warga yang baru balik dari mudik untuk tes usap antigen tetapi angka kasus terus merangkak naik hingga hari-hari ini.

Situasi itu mendorong Pemprov DKI Jakarta memperpanjang PPKM Mikro melalui Kepgub Nomor 759 Tahun 2021 dan Ingub Nomor 39 Tahun 2021.

Peningkatan kasus aktif di Ibu Kota menunjukkan tren mengkhawatirkan pascalibur Lebaran. Berdasarkan data Dinkes DKI Jakarta, pada 31 Mei 2021 saja atau tepatnya saat perpanjangan PPKM Mikro sebelumnya, kasus aktif di Jakarta sudah menunjukkan angka 10.658 dengan “positivity rate” 7,6 persen dari hasil tes PCR.

Selama dua pekan terakhir, kenaikannya konstan dan cenderung mengalami lonjakan. Hingga 14 Juni 2021 kasus aktif di Jakarta mencapai angka 19.096 atau naik 9.000-an kasus.

Bahkan beberapa hari terakhir pertambahan kasusnya mencapai 2.000, 2.300, 2.400 dan 2.700 dengan kenaikan “positivity rate” yang juga signifikan di angka 17,9 persen.


Varian baru
Menurut Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti, ada hal lain yang juga tak kalah mengkhawatirkan, yakni varian baru mutasi virus Sars-Cov-2 atau COVID-19.

Varian itu berasal dari luar negeri yang transmisinya sudah ada di Jakarta.

Ada beberapa varian yang harus diwaspadai, terutama varian Delta B1617.2 yang sudah bertransmisi di Jakarta. Varian baru ini cukup merepotkan karena memiliki kemampuan tersendiri dalam menginfeksi.

Selain varian Delta B1617.2 yang amat mudah menyebar, varian Beta B135 amat mudah membuat gejala menjadi berat atau lebih mematikan.

Meskipun menurut penelitian terakhir, seluruh varian masih dapat diantisipasi dengan vaksin, tetapi ini benar-benar harus diwaspadai bersama.

Oleh karena itu, Jakarta saat ini memasuki fase krusial dan ini harusnya bisa dicegah agar tak masuk fase genting.

Widyastuti memastikan seluruh jajaran Pemprov DKI kini bekerja menyiapkan antisipasi jangka pendek terlebih dahulu dengan menambah semaksimal mungkin kapasitas keterisian tempat tidur isolasi atau “Bed Occupancy Rate” (BOR).

Dalam beberapa hari terakhir ada peningkatan keterisian pasien COVID-19 di rumah sakit rujukan.

Per 31 Mei 2021 kapasitas tempat tidur isolasi di Jakarta sebanyak 6.621 dan terpakai 2.176 atau 33 persen dan ICU sebanyak 1.014 dan terpakai 362 atau 36 persen.

BOR juga naik signifikan per 14 Juni. Kapasitas tempat tidur isolasi sebanyak 7.341 terisi 5.752 atau sudah menyentuh 78 persen hanya dalam dua pekan dan ICU sebanyak 1.086 terisi 773 atau 71 persen.

Dari 78 persen keterisian tempat tidur tersebut, 25 persennya merupakan warga luar DKI Jakarta. Meski demikian, komitmen DKI tetap untuk tak membeda-bedakan pelayanan

Fakta-fakta ini menjadi peringatan bahwa virus corona tak mengenal batas wilayah.
Hal ini harus diantisipasi dengan terus menambah jumlah tempat tidur.

Genting
Pemprov DKI Jakarta telah menggandeng berbagai pihak dan memanfaatkan berbagai sumber daya untuk menambah BOR.

DKI pun menambah fasilitas isolasi mandiri bekerjasama dengan pusat dengan BNPB, seperti Rusun Nagrak Cilincing, Wisma TMII dan Wisma Ragunan.

Fasilitas itu digunakan sebagai fasilitas tambahan bila Wisma Atlet mengalami lonjakan pasien yang harus ditangani. Tujuannya pengendalian COVID-19 dapat dilakukan dengan baik.

Selain penambahan kapasitas tempat tidur, Pemprov DKI Jakarta juga tengah mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk menambah “tracer” (petugas yang akan melakukan pelacakan).

Para “tracer” inilah yang nantinya memegang peran penting untuk melakukan deteksi dini.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga menguatkan sinergi dan kolaborasi dengan jajaran Forkopimda serta seluruh elemen masyarakat guna mengintervensi dan mengantisipasi agar Jakarta tak masuk ke fase genting.

Penguatan ini diimplikasikan dalam berbagai kegiatan, seperti operasi gabungan guna membentuk pendisiplinan kolektif.

Berdasarkan pengalaman pada tahun lalu, jika Jakarta masuk fase genting, maka Pemprov DKI harus menarik “rem darurat” yang akan berdampak pada perekonomian.

Ibu Kota kini dalam kondisi yang memerlukan perhatian ekstra.

Bila kondisi sekarang tak terkendali, DKI akan masuk fase genting dan jika fase itu terjadi, maka harus ambil langkah drastis seperti yang pernah dialami pada September dan Februari tahun lalu.

“Kita inginkan peristiwa itu tak berulang. Untuk itu, maka dua unsur harus kerja bersama,” kata Anies.

Unsur rakyat (warga) dengan pemerintah dan penegak hukum, harus berkolaborasi. Masyarakat menjalankan 3M dan pemerintah melaksanakan 3T.

Selain itu, menyiapkan penambahan 2.500 tempat tidur di Rumah Susun (Rusun) Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara, jika pasien rawat inap di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran terus bertambah.
 
Saat ini Pemprov DKI Jakarta masih memfokuskan RSDC Wisma Atlet Kemayoran sebagai fasilitas rawat inap pasien COVID-19. Namun jika dibutuhkan penambahan, Rusun Nagrak siap digunakan.

Untuk mendukung fasilitas isolasi pasien COVID-19 di Rusun Nagrak, Satuan Tugas Penanganan COVID-19 memberikan bantuan 500 velbed. Penyaluran bantuan tempat tidur portabel tersebut dilakukan seiring dengan peningkatan kasus infeksi virus corona.

Rusun Nagrak memiliki 14 menara (tower) yang terbagi dalam tiga klaster. Masing-masing menara memiliki 16 lantai dengan 225 unit tempat tinggal dengan dua kamar sehingga bisa menampung hingga 2.500 pasien.

Kini warga di DKI Jakarta tidak boleh menganggap enteng tingginya lonjakan pertambahan kasus COVID-19.

Sebagai penyintas COVID-19, Anies mengingatkan bahwa kondisi tubuh setelah terpapar virus sangat tidak nyaman.

Apalagi jika memiliki penyakit bawaan yang mengakibatkan kondisi tubuh semakin menurun. Anies pernah merasakan terkena COVID-19

Kalau sudah tertular, kata Anies, sama sekali tidak nyaman. Apalagi kalau susah sampai kondisinya berat. (Ant/Fit)