Home News Jelang Olimpiade, Jepang Buka Pusat Vaksinasi Massal Untuk Lansia

Jelang Olimpiade, Jepang Buka Pusat Vaksinasi Massal Untuk Lansia

15
0
Foto udara menunjukkan pesawat All Nippon Airways (ANA), yang membawa vaksin virus corona (COVID-19) buatan Pfize Inc. gelombang pertama tiba di Bandara Narita dari Brussels, di Narita, Tokyo, Jepang, Jumat (12/2/2021). Mandatory credit Kyodo/via REUTERS/WSJ/djo (REUTERS/KYODO)

BICARA.NEWS, Tokyo – Jepang membuka dua pusat vaksinasi massal pada Senin (24/5) ketika negara itu berjuang untuk segera memvaksin sebagian besar penduduk lansia terhadap COVID-19 sebelum dimulainya Olimpiade Tokyo.

Pusat-pusat vaksinasi di Tokyo dan Osaka akan memvaksin ribuan orang setiap hari serta meningkatkan dorongan untuk pelaksanaan imunisasi yang lamban di Jepang saat para pejabat terus berupaya memerangi gelombang keempat infeksi virus corona.

“Lebih baik melaksanakannya lebih awal. Semuanya berjalan cukup lancar secara keseluruhan,” kata Tetsuya Urano (66 tahun), yakni seorang penduduk Tokyo pusat yang termasuk di antara beberapa orang pertama yang divaksin di pusat vaksinasi massal Tokyo.



Bertempat di sebuah gedung yang biasanya digunakan untuk administrasi pajak, fasilitas vaksinasi Tokyo akan beroperasi 12 jam sehari untuk memberikan suntikan vaksin kepada sekitar 10.000 orang setiap hari selama tiga bulan ke depan.

Sementara fasilitas vaksinasi di Osaka, kota metropolis barat Jepang, akan memberikan sekitar 5.000 suntikan vaksin dalam sehari.

Fasilitas vaksinasi massal juga direncanakan untuk Nagoya, Kobe, dan kota-kota besar lainnya.

Perdana Menteri Yoshihide Suga bulan lalu memerintahkan Kementerian Pertahanan mendirikan pusat-pusat untuk mempercepat program vaksinasi COVID-19 di Jepang.

Gelombang infeksi keempat di Jepang telah membuat pihak berwenang memberlakukan status keadaan darurat yang mencakup sebagian besar wilayah negara itu, termasuk Tokyo. Gelombang infeksi baru itu telah meningkatkan kekhawatiran tentang keputusan untuk melanjutkan Olimpiade Tokyo yang akan dimulai pada 23 Juli.

Status keadaan darurat akan berakhir pada 31 Mei, tetapi pemerintah berencana untuk memperpanjangnya hingga 20 Juni, demikian diberitakan oleh surat kabar Yomiuri.

Hanya 4,4 persen dari 125 juta penduduk Jepang yang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID, menurut pelacak global Reuters. Angka itu merupakan tingkat imunisasi paling lambat di antara negara-negara besar dan kaya di dunia.

Jepang memulai pelaksanaan inokulasi pada pertengahan Februari, yakni lebih lambat dari kebanyakan negara-negara ekonomi maju. Pelaksanaan vaksinasi awalnya diperlambat oleh kurangnya pasokan vaksin Pfizer Inc dan BioNTech SE yang diimpor.

Akan tetapi, bahkan ketika pengiriman meningkat, peluncuran vaksinasi tersebut terhambat oleh kekurangan tenaga kerja, kendala logistik dan kegagalan fungsi dalam sistem reservasi.

Pusat vaksinasi massal untuk lansia di Jepang akan menggunakan vaksin Moderna Inc yang telah disetujui pemerintah pada Jumat (21/5). (Reu/Ant/Fit)