Home Opini Juru Masak Istana dan Makanan Beracun

Juru Masak Istana dan Makanan Beracun

46
0
Photo by Raka Miftah from Pexels

RAJA adil raja disembah, raja lalim raja disanggah. Di antaranya ada para oportunis, para penjilat, yang akan membantah atau patuh hanya jika ada keuntungan pribadi. Saya ingat sebuah dongeng.

Seorang juru masak istana sedang diadili oleh Raja yang kerap bertindak semena-mena. Ia dituduh menyajikan makanan yang mengandung racun. Ia dituduh hendak membunuh Raja.

“Biarkan saya memakannya, kalau memang beracun maka saya mati karenanya dan itu saya terima sebagai hukuman,” kata Si Juru Masak.

“Itu hukuman yang terlalu enak buatmu. Lagi pula ada peraturan tegas di Istana ini, hanya raja yang boleh menyantap masakan yang disiapkan untuk raja,” kata Raja.

Raja lalu memanggil dua orang, Si Jujur, Si Penjilat dan Si Bijaksana. Si Jujur berkata, “mohon maaf, Baginda, saya tak bisa memastikan apakah hidangan ini mengandung racun atau tidak. Kalau pun mengandung racun, saya juga tak tahu apakah racun itu dicampurkan oleh Juru Masak atau oleh orang lain.”

Si penjilat berkata, “Keselamatan Baginda harus diutamakan. Tak ada kecurigaan kalau juru masak tak berbuat sesuatu yagn mencurigakan. Saya sarankan berhentikan dia atau hukum seberat-beratnya.”

Si Bijaksana tanpa bicara langsung menyantap hidangan itu. Tak terjadi apa-apa, artinya tak ada racun pada makanan itu.

“Sekarang hukumlah saya, Baginda, karena memakan hindangan ini. Daripada negeri ini kehilangan seorang juru masak yang hebat dan jujur ini, lebih baik kehilangan saya, inilah kebijaksanaan terakhir yang saya sumbangkan untuk negeri ini,” katanya.

Raja mengampuni Si Bijaksana, ia juga mencabut tuduhan pada Juru Masak. Lalu mengukum Si Jujur dan Si Penjilat karena tak bisa memberi jalan keluar bagi persoalan yang dihadapi Raja.(hasan aspahani)