Home News Kolom: Hatta dan Tawaran K.H. Wahid Hasyim Menjadi Pemimpin NU

Kolom: Hatta dan Tawaran K.H. Wahid Hasyim Menjadi Pemimpin NU

59
0
Ilustrasi Muhammad Hatta.

Oleh Hasan Aspahani
Pemimpin Redaksi Bicara News

LEBIH dari perannya sebagai proklamator, sang dwitunggal, di kancah pergerakan nasional, Mohammad Hatta adalah sosok unik, dan punya posisi sangat penting. Ia berpendidikan barat, tapi berlatar keluarga yang semula menginginkannya belajar ke Mekkah dan menjadi ulama.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

Ia belajar ekonomi di Rotterdam, menjadi sosok berwawasan modern, fasih berbahasa B Jugelanda (bahkan mimpi pun berbahasa Belanda, kata Sjahrir), tapi sangat taat beragama.

Ia teguh. Karena itu ia kerap menjadi penengah antara kelompok nasionalis dan kalangan Islam.

Dinamika politik di negeri kita memang diwarnai tawar-menawar, pertentangan, mufakat, bahkan serang menyerang antara dua kelompok itu. Juga perpecahan antarfaksi di dalam kelompok itu.

Untuk kepentingan analisa disertasinya yang kemudian jadi buku “Partai Islam di Pentas Nasional” (Penerbit Mizan; Cet. II, 2000) Deliar Noer (1926-2008) menyebut kedua kelompok sebagai “kalangan nasional yang netral agama” dan “kalangan Islam”.

Hatta diterima di dua kelompok itu. Ia suatu kali bahkan pernah ditemui dan ditawari oleh K.H. Wahid Hasyim untuk memimpin Nahdlatul Ulama (NU).

Dengan segala hormat, Hatta menolak. Menurutnya, seorang pemimpin organisasi hendaklah tumbuh dan dipilih dari dalam.

Cerita itu disampaikan Hatta kepada Deliar Noer yang pada tahun 1950-an sebagai mahasiswa kerap berkunjung ke rumah Hatta.

“Tawaran itu menggambarkan kepercayaan kalangan Islam terhadap Hatta,” kata Deliar Noer.

Akan tetapi betapapun simpatinya Hatta kepada Islam, ketika itu ia merasa tidak mungkin memimpin NU atau organisasi Islam manapun. Ia seakan ingin membagi kakinya di dua sisi: nasionalis dan religius.

Hatta selalu percaya pada kekuatan gerakan. Ia membesar dan dibesarkan gerakan nasional yang dengan sadar ia ceburi. Ia selalu mengandalkan massa yang sadar. Karena itu pilihannya adalah pada pendidikan politik, pembangunan jejaring kader, dan bukan mengandalkan kharisma tokoh.

Rezim Soekarno pun tumbang. Artinya apa yang Hatta katakan sebelum munduru pada sahabatnya Soekarno benar. Soekarno tak bisa mewujudkan eksperimen dengan konsepsi politiknya.

Hatta merasa telah cukup memberi kesempatan yang fair kepada Soekarno sejak ia mundur dari jabatan wakil presiden pada 1956.

Pada 1967, Hatta menyiapkan sebuah gerakan politik baru. Ia mendirikan Gerakan Demokrasi Islam Indonesia.

Ia bergerak, merangkul tokoh-tokoh muda dengan kesadaran yang sama, mulai bersafari ke berbagai daerah dimulai dari Sumatera dengan target tiga bulan kemudian gerakan itu menjadi Partai Demokrasi Islam Indonesia.

Inilah ijtihad politik Hatta, hasil pemikiran dan permenungannya setelah sepuluh tahun lebih menyisih dari kancah pergolakan politik, tapi pasti tak pernah bisa ia hindarkan, dan tak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Ia memformulasikan platform ideologi yang ia yakini diperlukan sebagai solusi bagi Indonesia: ia percaya pada demokrasi, dan ia percaya Islam harus dibawa dalam sistem itu. Ia merumuskan AD/ART partai dan ia siapkan diri untuk memimpin partai itu.

Mula-mula tawaran Hatta tak dipandang oleh politisi Islam lain kala itu. Tapi, ujar Deliar Noer, ketika pada tahun-tahun berjalan di awal orde baru partai-partai Islam tak menjalankan fungsi politiknya sebagaimana diharapkan, para pemimpin Islam barulah melihat gerakan Hatta dengan partainya sebagai gerakan Islam.

Tapi kesadaran itu terlambat. Soeharto melarang Hatta meneruskan rencananya. Sebelum lahir. Seperti aborsi. Rezim Orde Baru kemudian menyederhanakan sistem kepartaian. Partai-partai Islam dilebur jadi satu, bongsor secara jumlah tapi kerdil secara pengaruh dan peran. Semua kekuatan politik ditekan, dilemahkan, bahkan ditumpas.

Dari Hatta kita memetik teladan: menjadi modern tak berarti harus meninggalkan religiositas dan tak perlu meninggalkan ketaatan dalam beragama, dan kalau percaya pada demokrasi, pada keniscayaan sebuah partai dalam sistem itu, kalau ingin menjadi ketua partai siapkanlah partai sendiri. Kuatkan basis dukungan dan besarkan. Jalankan rekrutmen dan pengaderan. Jangan mau diajak mengambil alih partai yang sudah ada, eh….***

Previous articleMantan Pegawai KPK Ungkap Rencana Bentuk Partai Politik
Next articleJadwal Perebutan Emas Basket 3×3 PON Papua Hari Ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here