Home Opini Korupsi Itu Kanker, Koruptor Penyebabnya

Korupsi Itu Kanker, Koruptor Penyebabnya

Kok KPK Tetap Saja Menyebut Napi Korupsi Sebagai Penyintas?

168
1
Seorang Tunawisma beristirahat di samping mural manusia berkepala sapi di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (13/5). Mural tersebut merupakan bentuk kritik terhadap perilaku korupsi yang terjadi di negara ini. ANTARA FOTO/Dhoni Setiawan/Koz/ama/13.

KORUPI itu kanker. Ia merusak jaringan tubuh negara. Ia menggerogoti organ-organ pemerintahan. Ia bikin sakit parah dan mematikan. Di sepanjang sejarah berkali-kali sudah kanker itu nyaris bikin bangsa ini ambruk.

Koruptor dengan perilaku korup dan mental korup adalah penyebab kanker itu, zat karsinogeniknya.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

Bagaimana mungkin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tetap saja memakai istilah penyintas korupsi? Ada korupsi makna gila-gilaan di situ.

Koruptor, perilaku korup, mental korup, sekali lagi adalah penyebab kanker bernama korupsi itu. Yang sakit karenanya, apabila kanker itu mengganas, adalah negara dan yang jadi korban adalah kita semua rakyat jelata.

Jalan yang harusnya lima meter lebarnya, karena korupsi, jadinya hanya tiga meter. Aspal jalan yang tebalnya harus setebal martabak spesial, jadinya setipis krepes.

Alhasil, jalan yang dibangun dengan uang rakyat yang harusnya bisa dinikmati bertahun-tahun, sudah berlubang-lubang dalam hitungan bulan.

Kalau contoh soal jalan tadi terlalu Orde Baru, kita ingat saja kasus korupsi bansos Eks-Mensos yang baru saja divonis 12 tahun.

Uang puluhan miliar yang harusnya diterima rakyat terdampak pandemi, eh, malah jadi bancakan politisi orang-orang partai itu.

Tidak ada orang yang mau kena kanker. Negara juga tak mau. Tapi apabila seseorang terkena kanker, yang kadang muncul tanpa gejala, maka agar bertahan ia harus rela jalani berbagai terapi pengobatan yang menyiksa.

Apabila si penderika kanker itu sembuh ia layak disebut penyintas. Survivor. Ia pejuang tangguh. Ia memenangkan pertarungan berat.

Adapun koruptor tentu saja jauh dari logika yang melahirkan istilah itu. Penyebab kanker harus dimatikan. Harus dihindarkan.

Menghukum koruptor adalah upaya mengisolasi penyebab kanker agar gak merusak jaringan tubuh negara, agar tak menular, menyebar lagi, dan agar tak diam-diam menyerangnya lagi, perbuatan yang sudah pernah ia lakukan dan karena itu mereka dihukum.

Tapi ujar sebagian orang bukankah napi korupsi itu tobat? Sudah menjalani hukuman yang setimpal? Mungkin. Siapa yang tahu. Perkara tobat, mengaku perbuatan dosa, itu sama Tuhan urusannya.

Dengan perumpangan bahwa mereka itulah penyebab kanker, bukan pengidap kanker, mereka itulah zat karsinogenik yang memicu timbulnya kanker, maka istilah penyintas tak layak disandangkan pada mereka.

Kalau KPK terus saja memaksakan pemakaian istilah itu, maka sekali lagi itu adalah korupsi makna yang gila-gilaan. Lantas bagaimana kita percaya bahwa korupsi akan diberantas dengan cara korup seperti itu? Apalagi kemudian mereka dijadikan penyuluh antikorupsi. Hwarakadah! (hasan aspahani)

Previous articlePencabutan Hak Politik Juliari untuk Lindungi Masyarakat
Next articleMendagri Terbitkan Tiga Instruksi untuk Lanjutan PPKM Jawa & Bali

Comments are closed.