Home News Opini: Keep It Simple, Khaby

Opini: Keep It Simple, Khaby

132
0

Agus Hidayat
Praktisi Komunikasi & Pengelolaan Reputasi.
Senior Vice President Corporate & Public Affairs
di FleishmanHillard Indonesia

Agus Hidayat.

Siapa tak kenal Khaby Lame (Khabane Lame), pembuat konten dengan jumlah pengikut terbanyak kedua di aplikasi TikTok. Pria asal Italia keturunan Senegal ini menjadi terkenal dengan berbagai konten sindirannya atas konten life hacks yang dibuat oleh content creator lain.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

Kini, wajah dan konten khas Khaby Lame dapat kita jumpai dengan mudah di berbagai platform dan aplikasi karena disebarkan warganet, juga karena berbagai perusahaan multinasional menggandengnya untuk keperluan komersil.

Meroketnya reputasi Khaby tak terlepas dari mantra utama dalam komunikasi (dan seharusnya dalam kehidupan), yakni keep it simple.

Khaby sekaligus ‘menegur’ wajah komunikasi kita karena mampu membuktikan tetap dapat berkomunikasi ke seluruh dunia secara efektif bahkan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, tanpa menuliskan text apapun.

Narasi yang dibangun sukses disampaikan secara visual gak pake ribet, tanpa keruwetan kata berbunga-bunga maupun data dan angka yang kusut. Dalam era banjir informasi saat ini, apa yang dilakukan Khaby menjadi sangat istimewa.

Harus diakui, bahkan bagi profesional komunikasi sekalipun, penggunaan bahasa yang simpel jauh lebih sulit ketimbang narasi panjang maupun jargon (seorang kawan praktisi komunikasi menggunakan istilah busa, merujuk kepada busa sabun atau shampo).

Padahal penggunaan bahasa yang simpel, lugas, akan menutup peluang bagi kesalahan pemahaman, juga tidak memberi ruang bagi wilayah abu-abu, atau secara sederhana, jauh lebih efektif.

Kesimpelan lebih dekat dengan kejelasan, dan ini amat penting dalam komunikasi, terutama ketika aktivitas itu dilakukan untuk memberi klarifikasi terhadap isu tertentu.

Maka ketika ternyata masih dijumpai beda pemahaman usai klarifikasi disampaikan, perlu dilakukan evaluasi atas narasi/konten  yang dibangun, juga terhadap bagaimana juru bicara menyampaikan klarifikasi tersebut (jika disampaikan oleh juru bicara).

Menjaga simplisitas bahasa juga berlaku dalam proses memahami pertanyaan dari pihak lain, sehingga dapat memberi respon yang tetap simpel dan tepat, tidak kemana-mana. 

Sebagai ilustrasi, seorang anak laki-laki berusia 6 tahun bertanya kepada ayahnya, “bagaimana aku dilahirkan?” 

Sang ayah kemudian menceritakan proses pernikahan, hubungan suami isteri, pertemuan sel telur dengan sperma hingga terbentuk embrio yang bertumbuh menjadi janin yang hidup dalam rahim selama sembilan bulan sepuluh hari, mendapatkan asupan makanan dari plasenta, sebelum akhirnya dilahirkan ke muka bumi.

Seusai panjang lebar menjelaskan proses biologis ini, sang anak berkata, “Terima kasih atas penjelasannya, tapi maksudku, apakah aku lahir secara normal atau melalui operasi,”

Kerap terjadi dalam komunikasi, ketidakmampuan menangkap sesuatu yang simpel berakibat kepada pemberian respon yang tidak sesuai dan tidak jelas. Sehingga dalam hal ini, apa yang diinginkan oleh penerima infomasi dan apa yang (ingin) disampaikan oleh pemberi informasi, sama-sama melenceng dari harapan.

Maka, amat penting untuk memberi batasan terhadap poin-poin pembicaraan dalam komunikasi (tatap muka), terutama ketika narasumber atau juru bicara merupakan ahli (subject matter expert) sehingga memiliki pengetahuan yang mendalam dan luas terhadap isu yang tengah disampaikan.

Tentu bukan hal yang buruk, bagus bahkan, tapi membatasi talking points agar tetap simpel juga sama pentingnya, dan tak kalah penting adalah memahami pertanyaan dan konteks bicara dengan kerangka berpikir yang sederhana. 

Pelajaran kedua dari TikToker Khaby Lame adalah otentisitas. Jika reputasi secara matematis dapat dirumuskan sebagai penjumlahan dari unsur kinerja, perilaku dan komunikasi, maka otentisitas menjadi faktor pengali terhadap penjumlahan atas tiga unsur tersebut.

Sebagai faktor pengali, tentu saja perannya amat besar, sebab jika kurang dari satu, maka dapat membawa resultan yang lebih kecil terhadap hasil penjumlahannya.

Kita menjadi saksi bagaimana otentisitas Khaby meroketkan reputasinya dari seorang kelas pekerja yang terkena PHK akibat pandemi, menjadi salah satu kreator konten paling terkenal sejagat raya dengan penghasilan miliaran rupiah.

Padahal, awalnya Khaby mulai menginstall TikTok untuk mengisi waktunya dalam mencari pekerjaan dan membuat beragam konten TikTok pada umumnya: aneka clip joget-joget, komedi, juga konten nonton video game.

Dalam satu wawancara dengan media global, Khaby mengungkapkan bahwa ide konten orisinalnya lahir karena kegemarannya melihat konten life hacks yang membuatnya terinspirasi untuk menghadirkan kesederhanaan.

Sedangkan isyarat mengangkat bahu di akhir clip, menurut Khaby juga karena ia ingin agar kontennya bisa menjangkau lebih banyak orang tanpa terhalang perbedaan bahasa.

Otentisitas dalam ranah komunikasi bisa diterjemahkan secara bebas sebagai upaya yang dilakukan komunikator dengan lugas, menunjukan jati dirinya dan tidak lebay baik dalam konten, pengemasan maupun penyampaiannya.

Karena warganet atau audience anda saat ini sangat cerdas dan kritis, maka otentisitas dalam berkomunikasi (baik ke luar maupun ke dalam organisasi) menjadi lebih penting lagi.

Kita kerap melihat bagaimana sebuah brand atau korporasi (juga individu) terlihat sangat alamiah saat memposting konten di akun media sosialnya, berinteraksi dengan nyaman dan jujur dengan para pengikutnya, maupun menjawab berbagai celetukan khas netizen dengan tetap ‘menyenangkan’ kendati apa yang diceletukan warganet tersebut bukan sesuatu yang konstruktif terhadap brand atau korporasi (juga individu) pemilik akun tersebut.

Sebaliknya, beberapa brand atau korporasi (dan individu) tampak memaksakan diri ketika mem-posting sesuatu, tidak orisinal dan terlihat betul agenda setting-nya dalam menciptakan isu/percakapan.

Tak perlu seorang ahli komunikasi untuk melihat perbedaan antara konten dan interaksi yang otentik plus orisinal dengan yang artifisial, warganet dapat melihat dan merasakan, serta secara insinuatif tentu akan mengambil simpulan sendiri sesuai dengan latar belakang dan pengalamannya masing-masing, membuat persepsinya terhadao brand  atau korporasi (dan individu) pemilik akun tersebut.

Dan kita perlu angkat topi atas kehadiran Khaby melalui postingannya yang telah mengingatkan akan dua mantra utama bangunan reputasi dan komunikasi modern, yakni kesederhanaan dan otentisitas.***

Previous articleJadwal Bola Tangan Putri PON Papua Besok
Next articleTim Mitigasi IDI Siapkan Antisipasi Gelombang Ketiga COVID-19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here