Home Daerah Pemkab Batang Dukung Kampung Jamune Jadi Sarana Pemberdayaan Perempuan

Pemkab Batang Dukung Kampung Jamune Jadi Sarana Pemberdayaan Perempuan

33
0
Kampung Jamu Bue di Dracik, Kelurahan Proyonangan, Kabupaten Batang. ANTARA/Kutnadi

BICARA.NEWS, Batang – Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mendukung kelompok usaha bersama (KUB) “Kampung Jamune Bu’e” menjadi sarana edukasi dan media pemberdayaan perempuan dalam upaya pemulihan ekonomi di tengah pandemi.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Kabupaten Batang Subiyanto di Batang, Rabu, mengatakan bahwa pihaknya siap mendukung penuh upaya yang dilakukan oleh ibu-ibu untuk melakukan pemulihan ekonomi sekaligus melestarikan ramuan minuman jamu tradisional.

“Kami akan terus mendorong dan mendukung upaya yang dilakukan para ibu-ibu untuk ikut dalam pemulihan ekonomi di tengah pandemi,” katanya.

Subiyanto mengatakan sejak zaman nenek moyang, jamu telah dikenal khasiatnya untuk kesehatan tubuh manusia.

“Akan tetapi, seiring kemajuan zaman kini jamu pun mulai bertransformasi menjadi lebih modern seperti yang ada di ‘Kampung Jamune Bu’e’ yang berupaya menjadi sarana edukasi dan media pemberdayaan perempuan KUB,” katanya.

Penanggung jawab Kelompok Usaha Bersama Kampung Jamune Bu’e Sukoningsih mengatakan ide tersebut muncul bukan hanya karena banyaknya penjual jamu gendong tetapi karena kaum ibu yang ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap kelestarian ramuan tradisional agar dikenal kaum milenial, memberdayakan potensi yang dimiliki lingkungan sekitar, dan ikut membantu ekonomi keluarga.

“Kami memberdayakan para bakul (penjual) jamu gendong yang ada di sekitar daerah ini. Adapun produk jamu seperti beras kencur, kunir asem, sirih, manjakani, sehat wanita, sehat pria, lempuyang, temulawak, dan empon-empon,” katanya.

Ia mengatakan pembentukan “Kampung Jamune Bu’e” yang diinisiasi oleh kaum ibu bersama lima orang penjual jamu gendong ini ingin memodernisasikan jamu agar makin dikenal anak muda.

“Selama pandemi omzet yang didapat mencapai Rp200 ribu per hari. Oleh karena itu, kami berharap setelah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dan pandemi berakhir akan terjadi peningkatan penjualan jamu,” katanya. (Ant/Fit)

Travel Haji dan Umroh sejak 1995
Previous articlePemkot Jakpus Panen Ikan untuk Ketahanan Pangan dan Gizi Warga
Next articlePolda Kalsel Vaksin 1.500 Santri Ponpes Al Falah Putera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here