Home Opini Puisi: Purwokerto – Sokaraja – Sajak Abdul Wachid B.S.

Puisi: Purwokerto – Sokaraja – Sajak Abdul Wachid B.S.

32
0
Photo by Krivec Ales from Pexels

Purwokerto – Sokaraja
Sajak Abdul Wachid B.S.

Mengapa aku tak pernah merasa menjadi penghuni kota ini?
Ada banyak keasyikan duniawi
Hawanya menyejukkan, mata memandang
Panorama kehijauan masih banyak dijumpa
Hawa yang lalulalang, berujung selendang
Lenggak-lenggok Ronggeng Sungai Serayu
Bertamu Sang Kekasih

Mengapa aku tak pernah merasa menjadi penghuni kota ini?
Ada soto atau getuk goreng Sokaraja
Lukisan-lukisan panorama tempo doeloe, begitu syahdu
Sajak Arif Hidayat dengan metafora segar di luar
Atau kedalaman Heru Kurniawan yang kuselami bagai lagu
Atau Mas’ut si Peziarah yang kabarkan di mana terakhir
Bertamu Sang Kekasih

Mengapa aku tak pernah merasa menjadi penghuni kota ini?
Sepertinya kuyakin dia masih datang-pergi di sini
Atau keluar-masuk di antara rak-rak buku
Di antara nisan makam Syekh Makdum Wali
Atau di puncak Walang Sanga yang entah di mana terakhir
Bertemu Sang Kekasih

Mengapa aku tak pernah merasa menjadi penghuni kota ini?
Ingin banget kutanya kepada Habib Abdul Hamid Sokaraja
Tapi sudah lama dia tak mau lagi berbahasa kata
Kecuali senyumannya lebih meyakinkan sapa
Adanya kasih sayang dan cinta
Padahal sekali itu saja dia berkata di mana terakhir
Bertemu Sang Kekasih

Yogyakarta, 2020

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wachid lulus Magister Humaniora Sastra Indonesia UGM, jadi dosen-negeri di IAIN Purwokerto, dan lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (15/1/2019). Buku terbaru karyanya: Kumpulan Sajak Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus, Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), dan, Kumpulan Sajak Biyanglala (2020).


Rubrik ini terselenggara atas kerjasama Bicara.news dengan Komunitas Sastra Setanggi.