Home Puisi Puisi: Suluk Penyair – Sajak Abdul Wachid B.S.

Puisi: Suluk Penyair – Sajak Abdul Wachid B.S.

73
0
Foto oleh Tima Miroshnichenko dari Pexels

SULUK PENYAIR
Sajak Abdul Wachid B.S.


(Soni Farid Maulana)

mengikuti langkah para peziarah
ia sampai pada sebuah negeri, di mana
matahari berkabut, pohonpohon kesejukan
dan pada malam harinya 1000 bulan

memekarkan bungabunga kecubung, di taman
ia terkenang, menghirup aroma kota yang
terbakar, impian seorang gadis di depan cermin
sekalipun pada siangnya, kembali

ia saksikan krematorium matahari
“oh, kehidupan yang berbolakbalik arah
kemanakah para peziarah itu menuju?” bisik sepi
gelap menyergap, harihari tanpa mata hati

ia mencatat semua dan segala itu, di antara
salak anjing memperdingin tiang listrik
dipukul peronda, dan sunyi mempertegas
daundaun gugur, mengaburkan jalan pergi

oh ya, ia ingat, di bawah hujan keremajaan
ia mencoret nama desi, dan ia cabut widuri dari
luka hati lelaki yang menyingkir ke tepian kota
demi mengekalkan 1000 rembulan yang muncul

dari masa kanaknya, bersama seorang nenek yang
menari, di bawah hujan masa yang menua
“oh, kehidupan yang bagai hutan lambang
telah sempurna kuambung masa silam, dan

kini, matahari akan terus terbit di sebelah timur
benak dunia, menjadi arah para pekerja”
ia terus akan mengetuk gerbang kehidupan
ia membuka pintu cahaya

yogyakarta, 23 agustus 2020

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur.  Wachid lulus Magister Humaniora Sastra Indonesia UGM, jadi dosen-negeri di IAIN Purwokerto, dan lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (15/1/2019). Buku terbaru karyanya : Kumpulan Sajak  Nun (2018), Bunga Rampai Esai Sastra Pencerahan (2019), Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus, Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020), dan, Kumpulan Sajak Biyanglala (2020).


Rubrik ini terselenggara atas kerjasama Bicara.news dengan Komunitas Sastra Setanggi.