Oleh Hasan Aspahani

AKHIR Juni 1921 Soekarno dengan memaki peci – apa yang belum lazim saat itu dan membuat orang-orang menoleh padanya – dan langkah gagah keluar dari Stasiun kereta Bandung. Ia memulai babak baru dalam sejarah hidupnya setelah tamat HBS Surabaya.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

Kenapa Bandung? Karena ibunya melarangnya kuliah ke Belanda. Lulusan HBS umumnya melanjutkan ke Belanda. Soekarno tahu benar tentang hal itu dan sempat meminta izin pada ibunya.

“Tidak. Tidak bisa. Anakku tak akan pergi ke negeri Belanda,” kata ibunya.

Ibunya memikirkan keuangan, tapi lebih penting dari itu adalah ia ingin anaknya tetap tinggal di antara bangsa sendiri. “Jangan lupa sekali-kali, Nak, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu adalah di kepulauan ini,” katanya. Dan Soekarno menurut.

Kenapa peci?

Soekarno senang dan menikmati benar kota Bandung. Itu misalnya ia wujudkan dengan membeli pipa rokok, apa yang tak ia lakukan di Surabaya. Soekarno datang ke Bandung dengan kepercayaan diri penuh. Itu ia wujudkan dengan memutuskan untuk tetap memakai peci itu, apa yang ia perkenalkan sebagai identitas diri, bangsa, dan perjuangan, dalam kongres Jong Java di Surabaya, beberapa saat sebelum ia berangkat ke Bandung.

Peci adalah cara Soekarno mengkritik kaum intelektual pada masa itu yang seakan meninggalkan rakyat. Peci dan blangkon hanyalah pakaian tukang becak, petani, pendek kata itu adalah penutup kepala dengan kaum jelata dan rakyat biasa.

Dalam beberapa pertemuan bersama kawan-kawannya kaum terpelajar kala itu Soekarno memperhatikan, umumnya mereka hadir tanpa menutup kepala atau istilahnya ‘buka tenda’. Soekarno sampai pada satu kesimpulan: itu sebuah kesalahan. Sebuah keangkuhan. Keinginan tampil beda dengan rakyat jelata sama saja dengan memisahkan diri dengan mereka.

“Orang-orang ini bodoh dan perlu belajar, bahwa seseorang tidak akan dapat memimpin rakyat banyak jika tidak menyatukan diri dengan mereka,” ujar Sukarno dalam biografinya “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat” (Gunung Agung, 1966).

Soekarno memutuskan hal yang beda. Dengan memakai peci ia ingin mempertalikan dirinya dengan sengaja kepada rakyat jelata. Maka dalam pertemuan-pertemuan Jong Java ia memakai peci, meski sempat ragu juga pada mulanya.

Pikiranku agak tegang sedikit. Hatiku berkata-kata. Untuk memulai suatu gerakan yang jantan seperti ini secara terang-terangan memang memerlukan keberanian.

Pada hari ketika Soekarno memutuskan memakai peci pada forum-forum resmi, ia sempat mengumpet di balik gerobak tukang sate tak jauh dari gedung pertemuan. Hari mulai gelap. Kawan-kawannya satu per satu lewat, tak ada yang berpenutup kepala.

Soekarno ragu. Soekarno menegur dirinya sendiri. “Jadi pengikutkah engkau? Atau jadi pemimpinkan engkau? — “Aku pemimpin,” ia jawab sendiri — “Kalau begitu, buktikanlah!” — “Hayo, maju! Pakailah pecimu!”

Seperti pandangan heran orang di Stasiun Bandung, malam itu Soekarno dan pecinya juga mengundang tatapan penuh tanya. Tapi bukan Soekarno namanya jika ia tak memanfaatkan situasi itu untuk sebagai kesempatan untuk menjelaskan pendiriannya. “Janganlah kita melupakan demi tujuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada di atas rakyat!”

“Maksudmu apa, Bung?”

Soekarno sedikit tercekat sehingga perlu mendehem kecil, melegakan tenggorokan, sebelum melanjutkan bicara, “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia. Peci yang memberikan sifat khas perorangan ini, seperti yang dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa Melayu, adalah asli kepunyaan rakyat kita.”

Orang-orang mulai mengerti.

“Bahkan, namanya pun berasal dari para penakluk kita,” ujar Soekarno, makin percaya diri.

“Pet” dalam bahasa Belanda berarti kopiah atau songkok. “Je” berarti kecil. “Petje”, sebenarnya begitulah sebutannya dalam bahasa Belanda.  

“Hayolah saudara-saudara, mari kita angkat kita punya kepala tinggi-tinggi dan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Dan Soekarno berhasil.  Ia memakai peci saat membaca proklamasi, ketika bersalaman dengan Che, ketika duduk di sebelah Kennedy di mobil terbuka yang menjemputnya, ketika berdiri di samping Kaisar Hirohito.  Peci itu, hingga kini menjadi simbol nasionalisme yang dipakai pejabat di acara-acara resmi kenegaraan. Juga ketika disumpah saat dilantik.

Peci bukan sekadar peci, bukan sekadar formalitas pelengkap pakaian resmi.

Bacaan: “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat” (Gunung Agung, 1966).

Tulisan ini pertama kali dimuat di Narakata.

Previous articlePerjalanan – Trybuana Tunggal Dewi Rahmadani
Next articleAparat Boleh Hapus Mural Rakyat, Rakyat Boleh Copot Baliho Pejabat?

2 COMMENTS

Comments are closed.