Home Health Studi Inggris: Vaksin COVID dan Flu Aman Disuntikkan Bersamaan

Studi Inggris: Vaksin COVID dan Flu Aman Disuntikkan Bersamaan

54
0
Zulmy Paty menerima vaksin COVID-19 AstraZeneca dengan disaksikan keluarganya di El Alto, Bolivia, Jumat (17/9/2021). Vaksinasi dilakukan oleh petugas kesehatan dengan datang dari rumah ke rumah untuk menyuntik warga. ANTARA FOTO/REUTERS/Claudia Morales/rwa.

BICARA.NEWS, London – Vaksin COVID-19 dan vaksin flu aman untuk disuntik secara bersamaan karena tidak berdampak negatif terhadap respons kekebalan yang dihasilkan oleh keduanya, menurut hasil penelitian di Inggris pada Kamis (30/9).

Inggris dan negara-negara belahan bumi utara lainnya bersiap menghadapi musim dingin.

Lonjakan kasus flu diperkirakan akan terjadi seiring pelonggaran pembatasan COVID-19 dan aturan menjaga jarak.

Suntikan booster (penguat) terhadap COVID-19 sedang diberikan di Inggris pada kalangan orang tua, rentan, serta petugas kesehatan.

Sementara itu, pemerintah Perdana Menteri Boris Johnson juga menjanjikan tahun ini mencetak keberhasilan program vaksinasi flu, terbesar dalam sejarahnya.  

Studi yang dipimpin oleh Universitas Bristol itu menemukan bahwa efek samping yang dilaporkan biasanya ringan hingga sedang dalam pengujian dengan tiga vaksin flu dan suntikan COVID-19 Pfizer atau AstraZeneca.

Hasil penelitian tersebut telah dipresentasikan kepada Komite Bersama untuk Vaksinasi dan Imunisasi (JCVI) untuk menjadi bahan pertimbangan serta membantu pembuat kebijakan merencanakan masa depan program vaksinasi.

Dosis vaksin diberikan pada hari yang sama, di lengan berbeda.

Selama masa penelitian, satu kelompok mendapat suntikan vaksin COVID-19 dan vaksin flu pada kunjungan pertama, sementara plasebo diberikan pada kunjungan kedua. 

Kelompok lain mendapat suntikan COVID-19 dan plasebo pada hari yang sama, diikuti dengan vaksin flu pada hari kedua.

Studi itu menemukan 97 persen dari peserta mengatakan mereka akan bersedia untuk menerima suntikan dosis vaksin COVID-19 dan vaksin flu di masa mendatang.

Penelitian tersebut melibatkan 679 sukarelawan di 12 lokasi di seluruh Inggris dan Wales. Hasil lengkap akan dipublikasikan di Lancet, jurnal pengobatan. (Reu/Ant/Fit)

Travel Haji dan Umroh sejak 1995
Previous articleSutradara Pawadi Jihad Menangi SFPP Europe on Screen 2021
Next articleBPS DKI Catat Nilai Ekspor Pakaian Rajut dari Jakarta Capai 30 Juta Dolar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here