Home Entertainment Suluk, tradisi dzikir memohon ampunan saat Ramadhan

Suluk, tradisi dzikir memohon ampunan saat Ramadhan

6
0

Banda Aceh, 25/4 Sejumlah pria berpakaian serba putih mengantre di sebuah bak air menunggu orang pertama selesai membasuh muka, kepala, tangan hingga kaki.

Satu-satu dari mereka naik ke bangunan berkonstruksi kayu sekitar 5×15 meter yang berada di dayah atau pondok pesantren Cuco (cucu) Tgk Syech H Mudo Wali Al Chalidy Seuramoe Darussalam Desa Beuradeun, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

Di saat yang sama, belasan perempuan dengan mengenakan mukena lengkap juga terus berdatangan mengisi tempat paling belakang dari bangunan kayu tersebut.

Meski cuaca siang itu cukup panas, ditambah lagi bangunan beratapkan seng. Namun, tidak mengusik jamaah melaksanakan shalat dzuhur hingga ibadah Suluk di bulan Ramadhan 1442 Hijriah.

Usai shalat dzuhur, jamaah langsung duduk bersila menutupi kepala hingga wajah mereka dengan kain sorban dan mukena bagi jamaah perempuan. Sikap itu menandakan hendak dilaksanakan tawajuh atau fokus menghadap Allah yang menjadi bagian dari ibadah Suluk.

Suluk merupakan, kegiatan berdzikir secara terus-menerus mengingat Allah SWT, meninggalkan pikiran dan perbuatan duniawi hanya untuk mendekatkan diri dan memperoleh keridahan dari Allah SWT.

Aktivitas dzikir ini merupakan pengajian ilmu dari Tarekat Naqsyabandiyah yang diajarkan di dayah di kaki bukit Gampong Beuradeun Aceh Besar tersebut.

Tidak terlihat jelas wajah mereka ketika mengucapkan ayat-ayat Allah SWT lantaran tertutup kain sorban atau mukena. Itu merupakan salah satu syarat bagi jamaah Suluk setiap bulan suci Ramadhan di pesantren cucu ulama kharismatik Aceh tersebut.

Jamaah Suluk di Pesantren Seramoe Darussalam itu pada tahun-tahun sebelumnya hanya bagi laki-laki dewasa, bahkan juga terlihat beberapa orang tua.

Namun, Ramadhan tahun ini merupakan kali pertama Suluk di sana juga diikuti oleh jamaah perempuan yang mayoritasnya adalah kaum ibu-ibu.
“Jumlah yang ikut Suluk di tempat kita bertambah dari tahun lalu, kebetulan tahun ini ada jamaah perempuan, yang tidak ada pada tahun-tahun sebelumnya,” kata pimpinan Dayah Cuco (cucu) Tgk Syech H Mudo Wali Al Chalidy Seuramoe Darussalam Tgk Harwalis Harun Wali.

Jamaah Suluk di dayah ini tidak berasal dari masyarakat terdekat, melainkan berasal dari daerah lain. Mereka tidak dibenarkan untuk pulang atau keluar dari perkarangan pesantran sampai kegiatan selesai hingga waktu yang telah ditentukan.

“Jadi mereka tidak pulang ke rumah, untuk istirahat nya sudah ada waktu-waku tertentu yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Harwalis mengatakan, jamaah yang mengikuti Suluk tahun ini di pesantren yang ia pimpin sebanyak 75 orang, mulai dari perempuan hingga laki-laki.

“Jumlah yang hadir tahun ini ada perempuan sebanyak 15 orang. Laki-laki lebih kurang sekitar 50 orang. Jadi jumlahnya di bawah seratus,” katanya.

Harwalis menyampaikan, kegiatan ibadah Sulok setiap bulan Ramadhan di pesantren yang ia pimpin itu sudah berjalan sejak 11 tahun yang lalu yakni 2010, dan masih bertahan sampai sekarang, jamaahnya juga terus bertambah.

Di Dayah Seuramoe Darussalam ini, Suluk dilaksanakan selama 10 hari. Namun sebenarnya juga bisa dilakukan 20 sampai 40 hari, itu tergantung dari hasil musyawarah para ahli Sulok setiap tahunnya.

“Kita laksanakan 10 hari dalam bulan Ramadhan, tapi di tempat yang lain ada juga yang melaksanakannya sampai 20, 30 hari hingga 40 hari, bagaimana kesepakatan bersama,” ujarnya.

Harwalis menuturkan, kegiatan ibadah Sulok bulan Ramadhan ini sudah sangat dimaklumi dan diketahui oleh masyarakat umum di Aceh, bahwa paling afdhal atau sempurna dari yang lainnya.

“Karena ada sembahyang, puasa Qiamul lail dan lainnya, Sulok ini merupakan kegiatan ibadah spesial, lebih dari pada hari-hari lain,” katanya.

Tawajuh

Karena Sulok dilaksanakan Bulan Ramadhan, maka sudah hakikatnya dilaksanakan tawajuh. Ibadah tersebut masuk dalam salah satu pendidikan atau latihan para jamaah mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam arti yang spesial.

“Tidak hanya dengan mengatakan atau mengucapkan kalimat-kalimat, nama-nama Allah, tidak sekadar ucap. Tetapi memang dilakukan secara lahir batin berdzikir kepada Allah SWT,” kata Harwalis.

Ketika tawajuh hendak dimulai, terlihat enam pemimpin atau khalifah duduk berhadapan dengan para jamaah yang menghadap kiblat. Lalu, jamaah secara bersama terus memanjatkan doa sembari memutar tasbih.

Saat tawajuh ini lah, para jamaah menutup semua kepala hingga wajah menggunakan sorban. Semua itu dilakukan agar para jamaah benar-benar kusyuk berdzikir dan mengingat Allah, tanpa terganggu pandangan dari luar.

Tawajuh adalah ibadah menghadapkan diri dan membulatkan hati lahir bathin kepada Allah SWT. Dilakukan beberapa kali sehari semalam usai melaksanakan shalat fardhu dan tarawih.

“Jadi katakanlah bermula tarekat selalu mengingat Allah, tidak luput hatinya, lahiriah-nya, lisannya tidak luput, itu lah tujuan utamanya,” ujarnya.

Kata Harwalis, tawajuh ini menjadi salah satu kelebihan dan keistimewaan dari Tarekat Naqsabandiyah di Aceh dan bahkan dari seluruh nusantara di Indonesia.

Harwalis menyebutkan, selama melaksanakan ibadah Sulok di bulan Ramadhan, tawajuh dilakukan sebanyak empat kali dari 24 jam, diantaranya setelah shalat subuh, zuhur, asar dan terakhir usai shalat tarawih.

Jika sudah mengikuti Sulok, para jamaah tidak bisa sembarangan mengkonsumsi makanan, ada pantangan-pantangan tertentu yang harus diikuti.

Di mana, kata Harwalis, pantangan jamaah Sulok itu adalah tidak bisa makan bahan makanan yang berdarah seperti daging, mengandung pengawet, dan barang yang bebas diperjualbelikan yang diragukan kemurnian dan kesuciannya untuk para ahli Sulok.
“Kenapa dilarang, supaya dalam perjalanan Sulok nya, saat mengingat Allah, saat berdzikir senantiasa jamaah lepas secara batin dan lahiriah nya. Pantangan ini wajib dijalani dan dipatuhi oleh para ahli Sulok,” kata Harwalis.

Dari atas bangunan setinggi sekitar 3,5 meter itu, tampak jamaah Sulok masih larut dalam dzikir, hingga akhirnya Tgk Harwalis yang menjadi mursyid membacakan doa dan membacakan salawat bersama para jamaah.

Salawat tersebut sebagai tanda bahwa Sulok siang itu berakhir, jamaah beristirahat, dan akan kembali dilaksanakan pada waktu shalat selanjutnya.

Sebelum melangkahkan kaki dari atas mushala, para jamaah satu-satu maju untuk bersalaman dengan enam orang khalifah, kemudian mereka kembali ke tempat istirahat yang telah disediakan. (Ant/Muh)