Home Opini Belajar Kearifan dari Seorang Anak Magang

Belajar Kearifan dari Seorang Anak Magang

34
0
pexels-artem-podrez-5125231

SAMBIL menunggu menyelesaikan skripsi anak sulung saya ambil kesempatan kerja magang selama tiga bulan di sebuah firma konsultan sesuai dengan pendidikannya.

Di akhir masa magang dia mendapatkan evaluasi positif dari seniornya.

“Kamu kalau dikasih tugas selalu beres. Selalu tuntas. Kamu kalau dikasih tugas, kamu bertanya di awal sampai jelas, setelah itu kamu jalankan tugasnya, kalau pun saya tahu ada kesulitan di tengah jalan kamu selalu bisa menyelesaikannya, tanpa bertanya lagi. Kamu bisa cari solusi secara mandiri,” kata si senior, seperti diceritakan anak saya kepada saya.

Karena evaluasi positif itu anak saya ditawari untuk memperpanjang magang.

“Berapa lama?” tanya saya.

“Enam bulan,” kata anak saya.

“Apa jawabanmu, Kak?”

“Pikir-pikir dulu. Kakak senang banget ditawari kesempatan memperpanjang magang. Tapi kan nggak enak kalau langsung menolak. Kakak mau selesaikan skripsi dulu,” kata anak saya.

“Nah, kalau boleh ikut saya mengevaluasi, kamu sudah belajar memutuskan berdasarkan prioritas. Itu penting, Nak,” tapi saya tak mengatakan kalimat itu pada anak saya.

Biarlah dia membangun dan menemukan kesadaran itu dengan pengalamannya sendiri dengan kearifannya sendiri. Dan dia telah menemukannya. Saya senang bisa ikut belajar dari dia.(hasan aspahani)