Home News Kolom: Kewajaran – Fatih Muftih

Kolom: Kewajaran – Fatih Muftih

32
0
kewajaran
Ilustrasi (Foto; Unsplash).

Kolom Fatih Muftih (dari blog Mahafatih)

SENI beda dengan beternak lele. Urusan pertama tidak ada alat ukur pastinya, sementara urusan kedua hanya diperlukan dacin untuk mengetahui bobot lele yang paling aduhai dan anggun dan memesona sebelum dipresentasikan sepinggan dengan kemangi atau kol atau timun atau kacang panjang mentah.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

Mas-mas pedagang pecak lele langganan pernah berujar, “Kalau terlalu besar, orang agak jijik makannya. Kalau kekecilan, dikira kami pelit orangnya. Jadi kami katakan kepada peternak, ukuran lelenya yang wajar saja.”

Saya kira itu perasaan dilematis penjual lalapan yang tidak semua orang tahu dan sekonyong-sekonyong saya seperti manusia pilihan yang dipercaya menerima pengetahuan yang tak tercetak dalam buku-buku: pengetahuan mengukur bobot ideal lele untuk dijual di lalapan pinggir jalan.

Sebuah kearifan yang membuat mata saya selalu berbinar-binar ketika seporsi goreng lele dan sambal disajikan di atas meja. “Benar, ini ukuran yang wajar,” gumam saya selalu.

Gumaman macam itu jarang terlontar saat sehadapan dengan karya seni—medium apa saja.

Penilaian terhadap seni nisbi subyektif. Artinya, setiap orang punya standar penilaiannya sendiri, pijakan interpretasinya sendiri, dan landasan apresiasinya sendiri. Kalau begitu, lantas dacin apa yang bisa dipakai untuk mengukur kualitas sebuah karya seni? Mengapa suatu karya boleh dilabeli joz-gandoz dan yang lain pyar-ambyar?

Pada tahap awal, suka atau tidak, teori dasar kesenian adalah rujukan paling awal. Seorang seniman—medium apa saja—harus beres sejak teori dasar. Terdengar arogan, ya? Memang.

Ambil contoh, misalnya, seorang penulis tidak bisa mengklaim membuat pantun jika rimanya berserak. Atau seorang fotografer abai pada komposisi dan pencahayaan. Atau seorang penari cuek pada gerak tubuh. Golongan semacam ini amat gegabah jika berlindung di balik jargon “seni, kan, bebas” atau “tabrak saja teorinya.”

Bahwasanya seni menjadi bebas, jika si seniman tahu batas-batas yang menyekatnya.

Mereka luput pada poin penting di balik jargon itu. Bahwasanya seni menjadi bebas, jika si seniman tahu batas-batas yang menyekatnya. Mustahil kita menjadi bebas tanpa tahu pagar yang mengungkung, bukan? Kalau soal menabrak teori itu lebih sederhana lagi.

Kita jelas tidak bisa menabrak atau melanggar teori itu tanpa lebih dahulu mengetahui dan menguasai teorinya. Sehingga dengan demikian, memodifikasi kalimat epik Pramoedya dalam novel Bumi Manusia, seorang seniman harus sudah berbuat karya sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.

Saya suka sekali pernyataan mendiang penyair cum aktor Gunawan Maryanto perihal tolok ukurnya dalam berkarya—utamanya dalam peran-peran yang dimainkannya. Dalam siniar bersama Puthut EA, Mas Chindil berujar kewajaran adalah standar yang selalu dikejar. “Jikalau masih artifisial, berarti masih gagal,” ujarnya.

Untuk menguji pernyataan itu, saya lantas menonton film The Science of Fictions (Hiruk-pikuk Si Alkisah). Dalam film ini, Mas Chindil berperan sebagai Siman, seorang yang dipotong lidahnya karena tanpa sengaja menyaksikan proses syuting rahasia pendaratan di bulan.

Alhasil, sepanjang film tak sepatah kata pun tokoh Siman berdialog. Karena itu Siman berkisah lewat gerakan tubuhnya yang berjalan dan bergerak lambat ala astronaut.

Dalam siniar itu, Mas Chindil sempat menjelaskan, “Karena medium bercerita saya adalah frame, maka sebisa mungkin dalam ruang yang sedemikian terbatas itu, saya bergerak dengan kewajaran seseorang yang dalam kepalanya dihantui peristiwa yang dilihatnya.”

Seorang Gunawan “Chindil” Maryanto yang kematangan beraktingnya sudah tembus langit, sudah diakui di penjuru negeri, sudah matang yang paling matang, tidak pernah mengejar sesuatu yang wah yang wow yang gila dalam memerankan watak. Mas Chindil hanya mengupayakan kewajaran sesuai dengan peran yang dimainkan.

“Dalam jariku ini ada seribu teknik bermain gitar, tapi tentu tidak semua bisa dimainkan dalam sekali di atas panggung. Untuk mendapatkan harmoni, paling yang dimainkan hanya dua atau tiga. Kecuali mau sirkus,” ucap seorang pemain gitar yang saya kenal baik.

Cara kawan bicara saya itu senada dengan pernyataan Mas Chindil tadi perihal kewajaran. Taraf ini bisa tercapai jika si seniman sadar betul pada situasi sehingga tahu benar apa-apa yang dibutuhkan dan takkan terjebak pada akrobat belaka.

Berakrobat-akrobat atau bersirkus-sirkus yang sering membuat kesenian kilau di mata tapi kering di hati. Polah ini menjarakkan (peng)karya dengan pemirsanya. Maka itu, yang wajar-wajar saja, yang seperlu-seperlunya saja. Ketahui batas, ketahui kebutuhan, ketahui situasi, dan berkaryalah dengan kewajaran yang patut.

Sebagaimana mas penjual lele yang mematok kewajaran dalam ukuran setiap lelenya yang dijual. Sebuah rahasia tak biasa demi memuaskan pelanggannya.

“Niat kita ingin kasih lele ukuran besar, nanti malah kapok pembeli kami,” ucapnya. Memang tidak ada yang salah untuk menjadi wajar; atau malah jangan-jangan perlu? Karena sudah terlalu sering kita bertindak artifisial dalam setiap hal.***

Foto oleh Kelly Sikkema dari Unsplash

Previous articlePsikolog: Penting Ajarkan Empati pada Anak Lewat Bermain dan Berbagi
Next articleJangan Anggap Sepele, Diabetes Bukan Penyakit Ringan