Home Narasi Partai Demokrasi Islam Indonesia, Ijtihad Politik Hatta yang Diaborsi Orde Baru

Partai Demokrasi Islam Indonesia, Ijtihad Politik Hatta yang Diaborsi Orde Baru

106
2
Mohammad Hatta.

Oleh Hasan Aspahani
Pemimpin Redaksi Bicara News.

PADA awal orde yang baru bernama Orde Baru, Mohammad Hatta menulis dengan penuh semangat dan harapannya meninggi: … sejak beberapa bulan sudah diketahui oleh orang banyak, bahwa suatu gerakan Islam baru akan muncul dengan nama Partai Demokrasi Islam Indonesia. Partai itu berjiwa Islam, bersifat nasional dan berjuang di atas dasar Pancasila.

Travel Haji dan Umroh sejak 1995

Ya, dia menyiapkan sebuah partai. Ia ingin masuk gelanggang politik setelah undur diri di akhir 1956. Ia berkeliling Indonesia. Ia kunjungi, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan mulai memperkenalkan gagasannya.

Tampaknya ia mendapat sambutan antusias.

Hatta ingin menjawab kekecewaan pemuda dan pelajar Islam, yang ia lihat merebak sejak 1958. Kekecewaan terutama meluas pada masa-masa tahun 196-1963. Negara dikelola seakan tanpa arah.

“Tidak saja keadaan ekonomi memburuk terus karena inflasi, tetapi juga haluam negara yang berpedoman dengan nasakom memberi kesempatan kepada PKI meluaskan sayapnya kemana-mana,” kata Hatta.

Hatta menuliskan semangat dan harapannya itu dalam pengantar buku “Rencana, Dasar, Program dan Struktur Partai Demokrasi Islam Indonesia” (Angkasa, Bandung, 1967). Ya, ia sudah matang dengan sebuah konsep partai nasionalis-religius.

Dengan partai itu, Hatta ingin mengoreksi sikap politisi dan pemimpin-pemimpin Islam yang, “…mau menerima begitu saja dasar nasakom bagi negara kita.”

Dengan partai itu, Hatta ingin memastikan tak lagi lahir seorang diktator berkedok konsep demokrasi terpimpin, kritik yang keras ia tujukan pada sahabatnya Sukarno.

“Selama Sukarno berkuasa tak akan ada perbaikan, melainkan kita akan mengalami kemunduran terus-menerus,” kata Hatta, dan yang ia katakan terbukti benar, hingga Sukarno sendiri tersingkir.

Hatta yang percaya benar pada demokrasi, lalu menyiapkan kendaraannya sendiri, parpolnya sendiri. Partai itu bernama Partai Demokrasi Islam Indonesia(PDII).

Hatta berharap banyak pada anak-anak muda. Ia merangkul organisasi pemuda pelajar Islam. Ia mengajak para pemuda untuk memasuki politik dengan intens dan tidak berpikir instan untuk meraih kekuasaan.

Hatta mengingatkan sejarah bangsa ini mengajarkan di masa lalu betapa mudahnya orang memutar dasar negara, dari demokrasi menjadi diktator. Dan masuk ke gelanggang politik adalah cara untuk melawan itu.

“Sebab itu tugas terutama yang harus dilaksanakan oleh Gerakan Dempkrasi Islam Indonesia ialah mendidik rakyat yang akan menjadi pengikutnya, untuk memahamkan demokrasi Pancasila dengan rasa tanggung jawab, terutama terhadap Tuhan, dn kedua terhadap masyarakat,” kata Hatta.

Langkah kedua, kata Hatta, adalah mewujudkan konsep itu ke dalam satu partai. Partai Demokrasi Islm Indonesia adalah ijtihad politik Hatta di awal orde baru.

Partai itu tak pernah sempat membuktikan premis dan mewujudkan keyakinannya. Penguasa orde baru tak mengizinkan partai Hatta itu. Sekali lagi ikhtiar politik Islam diberangus oleh penguasa. Hatta tak bisa ikut menghadang lahirnya seorang penguasa yang kelak memimpin juga dengan otoriter. Apa yang selalu ia cemaskan.***

Previous articleWarga India Menanti WHO Akui Vaksin Covaxin
Next articleMuseum Sumpah Pemuda Gelar Upacara Bendera

2 COMMENTS

Comments are closed.